Tips Membina Hubungan yang Sehat dengan Anak


Hubungan yang sehat dengan anak diperlukan karena kalau anak merasa aman dan nyaman dengan orang tua, ia dapat mengeksplorasi dunianya dengan tenang karena tau harus pergi ke mana ketika butuh perlindungan dan kenyamanan. Kualitas hubungan orang tua dan anak merupakan prediktor yang kuat dalam melihat hubungan sosial dan emosional anak di masa dewasanya.

Hubungan yang sehat ini biasa disebut secure attachment, dimana seorang anak akan merasa nyaman dan mampu melakukan beragam aktivitas ketika ada ibu di sekitarnya, tetapi ia akan sedih ketika ibunya pergi. Apabila seorang anak tidak memiliki hubungan yang sehat dengan ibunya, bisa saja ia tidak peduli mengenai keberadaan ibunya (ada atau tidak ada ibu, menjadi sama saja).

Penelitian yang dilakukan oleh Doinita dan Maria (2015) menekankan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh terhadap kualitas hubungan orang tua dan anak. Diantara 3 tipe pola asuh yg dikenal (autoritarian, autoritatif, dan permisif), pola asuh autoritatif adalah pola yang dianggap sangat berpengaruh dalam membentuk secure attachment seseorang. 

Pola asuh autoritatif artinya orangtua memiliki derajat responsiveness dan demandingness yang tinggi. Responsiveness di sini berkaitan dnegan respon orang tua terhadap kebutuhan anak, banyaknya dukungan, kehangatan, dan emosi yang ditampilkan dari orang tua ke anaknya. Sedangkan demandingness adalah bagaimana orang tua memiliki kebutuhan untuk membuat anak mereka dewasa dan bertanggung jawab, hal ini berkaitan juga dengan peraturan dan disiplin yang diterapkan di rumah sehari-hari.

Di bawah ini adalah hal sederhana yang bisa BuBu lakukan untuk mendukung terbentuknya hubungan sehat dengan anak, simak yuk!

  1. Penuhi kebutuhan dasar anak. Pada dasarnya anak membutuhkan rasa aman dan nyaman ketika ia dilahirkan ke dunia. Usahakan di 6 bulan pertama usianya, anak mendapatkan respon yang tepat ketika ia berusaha mencari perhatian orang tuanya dengan cara menangis. Oleh karena itu, penting untuk menggendong anak ketika ia menangis, hal itu mengajarkan anak bahwa ibu/ayah ada di sekitarnya dan siap membantu apabila kamu membutuhkannya.
  2. Bersikap hangat, terbuka, dan suportif. Orang tua perlu untuk menyampaikan dan menunjukkan emosi positifnya kepada anak, sehingga ia tahu bahwa ia selalu dicintai. Hal ini tentu saja perlu berlangsung sepanjang kehidupan, tidak saja di masa awal kehidupan anak. Selama ini yang banyak kita lihat adalah begitu banyak rasa sayang yang dicurahkan ketika anak masih bayi, tetapi berkurang dan tidak lagi terlihat ketika anak dewasa. Padahal dukungan dan cinta tersebut perlu didapatkan anak sepanjang masa.
  3. Disiplin positif. Penerapan aturan dan batasan adalah hal yang perlu dilakukan oleh orang tua. Menyayangi anak bukan berarti membiarkan anak melakukan segala hal tanpa batasan. Hal tersebut justru tidak membantu anak menumbuhkan kemampuannya untuk beradaptasi dan meregulasi dirinya. Orang tua perlu memberikan peraturan dan batasan yang jelas, disertai dengan harapan perilaku yang perlu ditampilkan oleh anak. Pastikan aturan, batasan, dan harapan tersebut disesuaikan dengan usia anak, sehingga anak dapat memahami dan menjalankan dengan semestinya.

 

Yuk bangun hubungan yang hangat dan sehat bersama si kecil agar ia bisa bertumbuh menjadi anak yang mandiri tapi tetap mengingat orang tua dengan baik!

BuBu, informasi seperti ini akan selalu ada di Instagram Sahabat Ibu Pintar, sebuah komunitas parenting persembahan Blibli.com yang bekerjasama dengan Rumah Dandelion yang terdiri dari psikolog keluarga, pendidikan, dan praktisi di bidang perkembangan anak dan pendidikan usia dini. Gak hanya itu, BuBu juga bisa mendapatkan kesempatan hadir di acara-acara Sahabat Ibu Pintar yang insightful banget!

Yuk gabung sekarang!