Mengenalkan Perbedaan Kepada Anak

25 Sep 2019

 

Sejak usia sekitar 18-30 bulan, mereka sudah mengembangan apa yang disebut “categorical self” yaitu cara konkrit bagaimana anak-anak ini menggambarkan diri mereka. Misalnya, anak-anak sudah bisa melabel apakah mereka “anak-anak atau dewasa” atau “pendek atau tinggi” atau sebuah kejadian “baik atau buruk” (Angela Oswalt, MSW)

Bubu pernah mendengar anak mengeluarkan kalimat-kalimat seperti ini? 

“Aku ngga mau temenan sama kamu ah, kamu agama X"

"Ih, rambut si A keriting, jangan deket-deket nanti ketularan lho!!"

"Om B serem banget ya, kulitnya hitam!"

"Aku ngga mau deket-deket dengan B, ah. Kata Mamaku dia anak autis, nanti menular!"

Sedih sekali, ya.. jika kita mendengar anak bicara seperti ini. Meskipun mungkin kalimat-kalimat tersebut tidak ditujukan ke anak kita, tetap saja kok rasanya anak-anak (ya sebenarnya orang dewasapun) tidak pantas mengeluarkan kalimat demikian.

Padahal, perbedaan pada setiap manusia adalah hal yang pasti. Kita sering mendengar ungkapan bahwa anak kembar pun tidak ada yang sama persis. Tumbuh di lingkungan yang berbeda dan menghargai perbedaan juga memiliki pengaruh positif pada perkembangan identitas anak. Sejak masa kanak-kanak, seseorang sudah mengembangkan konsep dirinya. 

Ketika anak-anak ini sudah bisa mengobservasi ciri fisiknya, mereka mulai melihat perbedaan di sekitar mereka. Berdasarkan hasil observasi dan interaksi sepanjang hidup mereka, mereka belajar bahwa mereka berbeda dengan orang lain, dan itu membentuk identitas mereka. 

Contohnya: A suka main bola, kalau aku sukanya main boneka, atau Bubu bisa memasak, aku belum bisa, tapi aku bisa belajar memasak. Dengan menyadari bahwa setiap orang berbeda-beda anak-anak akan lebih percaya diri. Mereka paham tidak semua orang harus pintar matematika, atau tidak semua orang harus bisa main bola. Setiap orang bisa menjadi hebat dengan caranya sendiri. Selain itu, anak yang terpapar terhadap perbedaan akan lebih mudah empati terhadap kondisi orang lain. Ia bisa memahami dan merasakan apa yang dihadapi oleh orang lain.

Lalu, bagaimana caranya ya, supaya anak-anak kita tumbuh sebagai pribadi yang menghargai perbedaan? 

1. Kenalkan konsep perbedaan seluas-luasnya

Bubu dapat mengenalkan perbedaan seluas-luasnya, dan menanamkan bahwa perbedaan itu tidak masalah. Contoh sederhana adalah: Perbedaan dalam selera makan. Bubu Sukanya ayam goreng, Pak Suami sukanya sayur bayem. Atau Si Kakak sukanya soto, Si Adik sukanya telur ceplok pakai kecap. Semua boleh menjadi dirinya sendiri, tidak perlu memaksakan soto lebih enak dari telur dan lain sebagainya. 

 

2. Kenalkan perbedaan ciri fisik

Ciri fisik merupakan hal yang mudah dilihat. Ada anak yang rambutnya ikal, lurus, panjang, pendek. Ada yang tubuhnya tinggi besar, pendek kecil, jangkung, gemuk. Atau warna kulit yang putih, kuning, sawo matang, hitam. Semua tidak masalah dan tidak ada yang lebih baik. Yang penting adalah perilakunya. Bagaimana kita memperlakukan orang lain dan orang lain memperlakukan kita. 

 

3. Perlunya konsisten dari Bubu dan Pak Suami

Jangan lupa mengenalkan perbedaan kepada anak butuh komitmen dan konsistensi dari Bubu dan Pak Suami. Sangat baik jika Bubu dapat memberikan pengalaman langsung, tapi juga dengan berdiskusi tentang cerita di buku, video yang ditonton, ataupun dari percakapan sehari-hari juga dapat menjadi sumber belajar menghargai perbedaan. Karena sebenarnya belajar tentang perbedaan dan menumbuhkan toleransi bukanlah hal yang bisa diajarkan langsung, melainkan ditumbuhkan lewat nilai dan perilaku sehari-hari (Ormrod, 1999). 

Tentu saja tidak lupa bahwa anak selalu menjadikan orangtuanya sebagai panutan, oleh karena itu Bubu dan Pak Suami perlu untuk terus memberi contoh menghargai perbedaan yang ada di sekeliling mereka. 

Selamat mengajari perbedaan pada anak ya Bubu!

 

Agstried Elisabeth, M.Psi., Psikolog

Expert Partner Sahabat Ibu Pintar