Kumpul Keluarga di Hari Raya: Survival Guide

08 Jun 2019

Berkumpul bersama keluarga di hari raya biasanya memberikan pengalaman dan emosi yang beragam. Antara senang karena bisa melepas rindu dan bercengkerama bersama anggota keluarga yang sehari-hari jarang ditemui, tapi biasanya juga diiringi dengan emosi negatif seperti kesal, lelah, khawatir, atau sungkan bila anak kita tidak dapat berperilaku “manis” di acara keluarga besar. Tidak jarang ditemui adanya keluarga-keluarga yang membatasi waktu berkumpul bersama keluarga demi menghindari konflik yang dapat terjadi.

Meski demikian, membawa anak untuk berkumpul bersama keluarga besar di hari raya dapat memberikan banyak manfaat. Erica Patino dalam tulisannya untuk www.understood.org menyimpulkan bahwa ada 3 manfaat yang bisa didapat anak dari kumpul bersama keluarga, yaitu (1) anak mendapat kesempatan untuk menjalin hubungan dengan kerabat lain; (2) anak mendapat variasi pengalaman tentang lingkungan sosial yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasinya; (3) keluarga dan kerabat lain mendapat kesempatan untuk lebih mengenal anak kita.

Untuk memaksimalkan pengalaman Bubu dan Pak Suami bersama Si Kecil dalam kumpul keluarga nanti, tidak ada salahnya untuk Bubu dan Pak Suami melakukan beberapa persiapan. Tidak hanya terkait transportasi dan akomodasi (bila harus pergi mudik ke kampung halaman), tapi terutama juga membantu mempersiapkan anak tentang situasi apa yang akan mereka hadapi dan apa yang diharapkan dari mereka ketika berada di situasi tersebut.

Berikut beberapa hal yang perlu Bubu dan Pak Suami lakukan sebelum berkumpul bersama keluarga.

  1. Minimalisir konflik akibat perbedaan kebiasaan atau aturan

Si kecil mungkin sudah paham dan mandiri dalam menjalankan aturan-aturan yang diterapkan di rumah. Namun ketika pergi ke tempat baru, rasa senang akan hal baru dan keriaan lainnya sangat mungkin membuat anak menjadi seolah-olah lupa dengan aturan biasanya. Bila hal ini terjadi, ingat bahwa mungkin yang Si Kecil butuhkan adalah diingatkan, dan kembali diberikan instruksi spesifik. Tidak perlu menyalahkannya bila ia lupa dengan aturan di rumah, karena memang hal itu dapat terjadi sesuai dengan usianya. Kondisi lain bisa juga muncul karena adanya beda aturan antara 1 rumah dengan rumah lain. Misal di rumah sendiri biasanya tidak boleh makan sambil nonton, tapi ketika ke rumah kerabat, ternyata dilihat sepupunya atau anak lain boleh makan sambil nonton gadget. Berikan anak penjelasan tentang aturan apa yang mungkin ditemukan di rumah orang lain yang berbeda dengan aturan di rumah sendiri, serta apa yang dapat Si Kecil lakukan dalam situasi tersebut.

 

  1. Ciptakan waktu dan ruang untuk anak menenangkan diri

Situasi baru dan orang yang ramai bisa saja membuat anak secara mental dan emosional merasa kewalahan dalam berinteraksi. Bila anak terlihat lelah (bukan hanya secara fisik karena bermain, tapi juga emosional), orang tua bisa mengajak anak untuk menenangkan diri di ruang tenang. Bila kumpul hari raya di rumah kakek neneknya, mungkin bisa ajak anak menenangkan diri ke kamar. Bila di rumah kerabat lain, orang tua bisa bertanya apakah ada ruangan pribadi yang bisa digunakan, atau ajak anak berjalan-jalan keluar rumah, untuk menjauhkan diri dari keramaian. Jangan lupa ketika nanti perlu mengajak anak “menyendiri”, orang tua contohkan sopan santun dengan pamit kepada kerabat lain dan jelaskan kenapa Bubu atau Pak Suami perlu mengajak Si Kecil menyendiri sejenak.




  1. Berikan anak aktivitas

Tidak hanya untuk menyibukkan anak, tapi untuk membantu memberikan struktur kepada anak. Bagi Si Kecil yang sudah bersekolah, mereka terbiasa dengan aktivitas dan kegiatan harian yang terstruktur. Hal ini yang biasanya hilang dan tidak didapatkan anak ketika mereka sedang liburan. Oleh karena itu, untuk membantu anak tidak mengalami perubahan sosial yang terlalu banyak, tetap buatkan rencana kegiatan bagi anak agar anak pun punya sarana untuk menyalurkan energinya.

 

  1. Diskusi mengenai tuntutan sosial dengan anak

Salim, menyapa, berbicara dengan suara pelan, tidak berlari-larian, adalah beberapa perilaku sosial yang diharapkan dari anak di situasi sosial tertentu. Jelaskan kepada mereka tentang sopan santun dan kebiasaan yang berlaku di rumah kerabat lain. Bila memang nantinya Si Kecil merasa sangat tidak nyaman untuk melakukan hal-hal seperti itu, Bubu dan Pak Suami bisa memberikan alternatif perilaku sopan santun yang dapat dilakukan anak-anak. Misalnya, bila anak belum nyaman untuk mencium tangan anggota keluarga lain, mungkin anak bisa diberikan altenatif seperti tos, tersenyum menyapa, atau melambaikan tangan.

 

  1. Informasikan kepada tuan rumah & anggota keluarga lain tentang kebiasaan anak yang unik

Tidak ada salahnya untuk memberikan pemahaman kepada anggota keluarga tentang kebiasaan anak yang unik. Hal ini tentu saja untuk membantu menimalisir konflik, tidak hanya antara Bubu dengan Si Kecil, tapi juga Bubu dengan anggota keluarga lain. Misal Si Kecil yang mudah mengalami sugar rush bila mengkonsumsi terlalu banyak makanan manis, sampaikan kepada keluarga agar jangan menawari makanan-makanan manis kepada anak. Atau Si Kecil yang pemalu dan takut dengan orang dewasa, sampaikan kepada keluarga bila ingin menyapa, lakukan dengan perlahan dengan menyapa orang tua terlebih dahulu, jangan langsung mendekati Si Kecil apalagi sampai mencium, memeluk, atau mencubit pipinya tanpa izin.

 

Lima hal di atas adalah beberapa hal yang dapat Bubu dan Pak Suami lakukan untuk menciptakan situasi kumpul keluarga di hari raya yang menyenangkan bagi semua pihak. Namun, sebaik-baiknya persiapan, pada saat pelaksanaannya nanti siapkan diri untuk menghadapi segala konflik yang ada. Dalam menghadapi hal-hal yang tidak mulus nanti, maka Bubu dan Pak Suami perlu untuk mampu mengambil rehat, tarik napas, menenangkan diri, dan regulasi emosi yang efektif. Selamat berkumpul bersama keluarga!

 

Oleh: Nadya Pramesrani, M. Psi., Psi

 

Psikolog Keluarga dan Pernikahan