Ketika Anak Kalah

14 Aug 2019

Pernahkah Bubu melihat anak yang menangis meraung-raung saat kalah dalam 1 kompetisi? Bahkan tidak perlu kompetisi, beberapa anak merasa kesal ketika mereka tidak dipilih lebih dulu di kelas, atau bisa jadi adik bisa menangis karena kakak selesai makan lebih cepat. Ada yang mengalami ini di rumah? 

Menurut Eileen Kennedy-Moore, Ph.D, penulis buku Smart Parenting for Smart kids Ketika anak berusia sekitar 4 tahun sangat wajar ketika mereka mulai kompetitif. Mereka mulai menyadari menang itu bagus dan menyenangkan meskipun sebenarnya mereka belum memahami kompleksitas dibalik status menang dan kalah itu sendiri. Pokoknya saya lebih cepat, lebih tinggi, bisa melempar lebih jauh, mainan saya lebih bagus, dan lain sebagainya.

Meskipun anak-anak ini belum sepenuhnya paham konsep menang dan kalah, namun begitu insting kompetitif ini muncul Bubu perlu langsung mengajarkan bahwa seindah-indahnya menang, kondisi kalah juga sesuatu yang perlu kita terima dan tidak terlalu buruk untuk dirasakan. Kompetitif sendiri bukanlah hal yang buruk. 

Anak-anak yang kompetitif biasanya terkenal sebagai anak yang berprestasi, berusaha keras, dan senang dengan tantangan baru. Namun, sifat kompetitif menjadi buruk ketika anak tidak diajarkan menerima kekalahan dengan baik. 

Apa yang harus dilakukan agar anak kita tumbuh menjadi anak yang tetap termotivasi untuk memberikan yang terbaik namun tetap siap menerima kekalahan? Ada beberapa tips yang bisa Bubu lakukan nih:

1. Tanamkan di keluarga bahwa kalah itu tidak apa-apa

Mungkin Bubu tidak asing dengan tips ini. Penting sekali di keluarga untuk memiliki pandangan yang sehat tentang prestasi dan kemenangan. Anak akan sulit menerima kekalahan ketika keluarga memberi kesan anak yang menang adalah anak yang istimewa. Misalnya: “Wah, kakak hebat sekali bisa menang kompetisi X, adik seperti kakak dong… bisa menang!” 

Atau ketika anak kalah, Bubu dan Pak Suami justru berkomentar seperti: “Wah anak yang menang curang tuh kak.. padahal kan gambar kakak lebih bagus..” Sungguh sebaiknya hal tersebut tidak dilakukan ya, kita harus mengajarkan pada anak bahwa ada banyak faktor untuk menang (usaha diri sendiri, waktu persiapan, support system, sampai keberuntungan). 

Oleh karena itu sebaiknya anak fokus kepada usaha mereka dan Bubu serta Pak Suami sigap menjadi support system anak untuk terus meyakinkan mereka bahwa menang atau kalah, Bubu dan Pak Suami tetap sayang dengan anak-anak ini. 

2. Piala bukan untuk semua

Fenomena ini banyak saya temukan di sekolah-sekolah zaman sekarang. Bubu pasti pernah lihat sekolah-sekolah yang mengadakan kompetisi, tapi semua anak baik menang ataupun kalah dapat piala. Bahkan yang tidak datang juga dapat piala! Ada yang seperti itu? Kebiasaan ini akan merusak konsep anak tentang menang kalah lho, Bubu.. Yang menang akan berpikir: “Kenapa aku harus susah-susah berusaha ya… kan menang dan kalah juga dapat piala.” 

Sementara yang kalah justru merasa malu, karena mereka sebenarnya sadar mereka tidak berhak dengan piala tersebut. Jadi mulai sekarang, terangkan kepada anak bahwa piala memang bukan untuk semua dan jika ingin menghargai usaha anak kita bisa lakukan dengan cara lain seperti pujian dan pelukan yaa..

3. Ajarkan anak tentang growth mindset dan kata “belum”

“Belum” adalah kata yang berarti kita masih dalam keaadaan tertentu, dan belum mencapai tujuan yang kita inginkan. Kata “belum” menyimpan berbagai kemungkinan. Belum bisa berarti mungkin akan  bisa. Belum sampai, berarti mungkin akan sampai, belum berusaha maksimal, berarti bisa berusaha lebih maksimal. Kata “belum” itu kata yang sangat istimewa yaa.. 

Jadi ketika anak kalah, Bubu dan Pak Suami bisa bilang: “tidak apa-apa, mungkin belum saatnya kakak menang nih.. kira-kira kita bisa memperbaiki apa ya supaya hasilnya lebih baik?” selain itu Bubu dan Pak Suami juga perlu membiasakan sudut pandang growth mindset. Growth mindset adalah sudut pandang yang berfokus pada proses. 

Jadi kalau Bubu memuji anak: “wah kamu pintar yaa…” sesungguhnya itu adalah pujian yang tidak berfokus pada proses. Jadi Bubu bisa mulai memuji dengan kalimat: “wah, kakak pasti berusaha keras ya untuk ini!” Lebih panjang sih kalimatnya.. tapi anak menangkap bahwa kita memuji usaha bukan hasil. Atau kalau anak kalah, lalu Bubu atau Pak Suami berkata: “Gak apa-apa, mungkin kamu ngga berbakat disini.” 

Mulai sekarang kalimatnya diubah menjadi: “besok-besok kita coba strategi baru yaa.. atau besok-besok kita belajar keterampilan baru yaa..” jadi anak terbiasa untuk bertumbuh, tidak merasa “mentok” tidak bisa berkembang.

Tiga hal ini baru sebagian kecil tips membesarkan anak untuk siap kalah ya Bubu, ada banyak cara lainnya namun yang menjadi prinsip adalah kita harus fokus pada usaha anak, tidak menilai kemenangan dan kekalahan secara berlebihan, dan menanamkan pada anak bahwa mereka bisa terus mencoba tantangan baru dengan kita selalu menjadi pendukung utama mereka.

 

Oleh: Agstried Elisabeth, M.Psi., Psikolog (Psikolog Expert Sahabat Ibu Pintar)