Fakta dan Mitos Parenting, BuBu Wajib Tahu

11 Oct 2018

Jadi orang tua artinya siap untuk selalu belajar hal baru. Belajar jadi orang tua bisa diperoleh melalui membaca buku dan mencari sumber informasi, ikut komunitas, atau bertanya pada orang tua dengan pengalaman mereka mengasuh anak.

Satu hal yang harus dipelajari bersama adalah berpikir kritis. Apakah informasi yang diterima sekadar mitos atau fakta. Nah di bawah ini ada beberapa mitos parenting yang mungkin sering BuBu dengar. Cek lagi yuk, apakah ini mitos atau fakta!

1.   Mitos #1: “Awas bau tangan! Kalau sering digendong maka anak akan manja dan bau tangan”

Mitos ini yang paling sering terdengar jika baru memiliki anak. Faktanya, menangis merupakan cara berkomunikasi bayi kepada orang di sekelilingnya. Bayi akan menangis untuk memberi tahu bahwa ia tidak nyaman, ia lapar, atau ia mengantuk. Dengan menggendong, bayi akan merasa tenang dan tidak rewel, menjalin kedekatan dengan orang tua, bahkan bayi yang sering digendong dan diajak mengobrol akan kemampuan memiliki kemampuan berbicara yang lebih baik.

Namun, bukan berarti bayi harus selalu digendong terus-menerus. Pada saat mereka sudah beranjak besar, bayi perlu diberikan waktu untuk melantai (floor time) untuk menstimulasi kemampuan motorik kasarnya seperti mengangkat kepala, tengkurap, berguling, duduk, maupun merangkak.

 

2.   Mitos #2: “Anak laki tidak boleh main boneka atau anak perempuan tidak boleh manjat-manjat”

Hal ini cukup sering dilontarkan ketika anak sedang bermain. Terkadang perbedaan gender menjadi bahan komentar mungkin disebabkan tuntutan peran sosial saat besar nanti. Faktanya, untuk dapat berkembang dengan optimal, baik anak laki-laki dan anak perempuan perlu mendapat stimulasi yang sama di segi fisik, sosial, emosi, bahasa, dan kognitif.

Diharapkan orang tua tidak terlalu membatasi aktivitas anak berdasarkan stereotip peran gendernya.

Contohnya melalui permainan boneka sebenarnya anak laki dapat mengasah kemampuan empati, belajar merawat, ataupun melatih mengungkapkan apa yang ia rasa. Sedangkan anak perempuan dengan bermain memanjat pohon atau merangkak di bawah meja akan melatih kemampuan motorik kasar dan keseimbangannya.

 

3.   Mitos #3: “Anak tidak tahu apa-apa karena orang tua itu selalu benar”

Apakah terbayang saat anak dua tahun ingin mencoba berbagai gaya berpakaian dengan pilihannya? Mungkin kaos kaki kanan berwarna merah dan kaos kaki kiri berwarna biru. Seringkali, orang tua akhirnya melarang karena pilihannya tidak sesuai. Faktanya, sejak anak menginjak usia dua tahun dimana anak memasuki fase belajar mandiri maka orang tua dapat mendorong mereka untuk belajar mengambil keputusan sendiri. Dengan begitu anak akan belajar lebih percaya diri dengan kemampuannya dan anak juga belajar bertanggung jawab dengan pilihannya. Awali dengan mendorong anak mengambil pilihan sederhana pada saat rutinitas di rumah, misalnya baju yang ingin ia pakai, piring yang mau ia ambil, atau warna sikat gigi yang ia mau.

Untuk melatih ini, orang tua perlu mengasah kemampuan bahasanya sehingga anak tidak mengalami kesulitan saat mengungkap apa yang ia mau dan juga perlu mengasah kemampuan sosialnya supaya apa yang ia pilih sesuai dengan normal yang ada di lingkungan.

Gimana BuBu? Udah tau kan mana yang mitos mana yang fakta? Informasi semacam ini ada di Instagram Sahabat Ibu Pintar juga lho Moms! Sahabat Ibu Pintar adalah komunitas persembahan Blibli.com yang berisi sekumpulan Ibu modern yang terus belajar bersama mencari solusi pintar seputar pola asuh anak. Yuk bergabung sekarang!