Body Shaming Bukan Sekedar Candaan

25 Jun 2019

Body shaming atau mengomentari kekurangan dari fisik orang lain memang tanpa sadar sering kita lakukan. Dari mulai basa-basi, bercanda kelewatan atau bahkan demi mencairkan suasana. Padahal, sebenarnya kebiasaan buruk ini gak baik dilakukan terus-terusan.

 

“ya ampun.. tinggi banget ya kamu, tiang bendera hampir kesusul nih..”

“aduh gak kasihan ya sama bangkunya, kecil gitu didudukin orang segede kamu..”

 

Ada gak sih orang yang gaya bercandanya seperti ini? Ada banget yaa.. Rasanya kuping (dan hati pastinya) suka panas kalau mendengar celetukannya dia. Bawaannya jadi males banget kalau ketemu atau melihat komentar-komentar dia di postingan media sosial orang. 

Ada yang bilang apa yang ia lakukan itu termasuk ke body shaming, yaitu perilaku mempermalukan seseorang karena jenis tubuh atau dari penampilannya (Gaffney, 2016). 

 

Body shaming ini sebenarnya bukan hal baru ya, karena dari zaman kita kecil sudah ada tuh perilaku orang-orang yang seperti itu. Hanya saja dulu kita menyebutnya ngeledek, menyela, atau menghina fisik. 

Namun, ada beberapa perbedaan juga yang membuat ledekan fisik zaman dulu kok sepertinya tidak terlalu dibesar-besarkan seperti zaman sekarang ya? Beberapa hal yang berperan penting adalah hadirnya media sosial dan peningkatan teknologi! Yuk kita bahas dimana bedanya:

 

Dulu

Sekarang

Orang meledek langsung ke orangnya. Yang dengar hanya diri sendiri atau beberapa orang yang ada di sekitarnya.

Orang meledek di postingan atau komentar media sosial. Yang bisa melihat tulisan itu adalah seluruh pengguna internet.

Kalau orangnya sudah tidak ada, komentarnya ikutan menghilang.

Walaupun orangnya sudah tidak ada, rekam jejak di internet akan terus ada.

Orang memiliki pandangan atau pemikiran tubuh ideal berdasarkan iklan majalah atau tv dan penampilan bintang film yang terlihat sangat sempurna karena adanya make up artist.

Selain iklan di majalah, tv, dan film, orang biasa pun sudah bisa membuat penampilannya seolah sempurna dengan teknologi di computer yang membuat mereka bisa mengedit tampilan wajah atau tubuh sebelum diposting di internet. 

 

Dari beberapa perbedaan tersebut, ternyata sejak zaman dahulu sampai sekarang, ada yang tidak berubah dari perilaku body shaming tersebut, yaitu efek negatif dari penerima. Seseorang yang menerima ucapan tidak mengenakkan mengenai kondisi fisiknya, tentu akan merasa emosi negatif, seperti kesal, sedih, malu, dan sebagainya. 

 

Ketika perilaku tersebut terulang terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, tentunya akan mempengaruhi kondisi psikologis orang tersebut. Ia akan memiliki body image (persepsi seseorang mengenai kondisi tubuhnya) yang negatif. 

Sedihnya, menurut beberapa penelitian, body image negatif ini yang kemudian mendorong seseorang merasakan stress hingga depresi, dan juga memunculkan perilaku-perilaku tidak sehat, seperti gangguan makan seperti anorexia dan bulimia nervosa. 

 

Jadi apa yang bisa kita lakukan agar tidak menjadi pelaku body shaming

  1. Berpikir sebelum kita memberikan komentar. Sebaiknya stop sejenak untuk memikirkan respon apa ya yang sebaiknya saya berikan, setiap kali ada hal yang menarik perhatian kita. Pikirkan apakah komentar kita itu akan menyakiti orang lain, apakah justru memberikan manfaat, atau memicu permasalahan. 

  2. Perluas wawasan sehingga kita bisa memulai basa basi tanpa mengomentari fisik lawan bicara kita. Ada banyak banget lho hal yang bisa dibahas tanpa harus memulai percakapan dengan kalimat “wah kamu kurusan/gemukan deh”. Tanyakan kegiatan mereka saat ini dan dengarkan dengan baik cerita mereka, itu jauh lebih bijak.

  3. Ingatlah untuk tidak melakukan body shaming ke anak kecil. Biasanya orang dewasa suka lupa kalau anak kecil juga manusia, sehingga ia bisa merasa emosi negatif yang dirasakan orang dewasa juga. Jadi stop manggil anak/adik/keponakan kita dengan sebutan fisik ya!

Semoga dengan kita sendiri sudah sadar dan berhenti melakukan body shaming ke orang lain, perilaku ini menjadi semakin berkurang dan kita bisa hidup di dunia yang penuh kehangatan ya!

 

Oleh: Binky Paramitha I.