6 Alasan Mengapa Bonding Perlu Menjadi Parenting Goal BuBu

18 Feb 2019

“Kalau lahiran nanti jangan lupa IMD (Inisiasi Menyusui Dini) ya..biar bonding sama si kecil dari lahir..”

“Ikut kelas bayi bermain deh, bayinya distimulasi dan plusnya bisa nguatin bonding orang tua – anak lho..”

“Anakku ini clingy banget, aku hilang dari pandangan sebentar saja bisa nangis histeris, apa-apa tidak ya?

“Anakku ga pernah nurut sama aku, apa ada yang salah ya dalam hubungan kami?”

 

Bonding antara orang tua – anak memang merupakan topik yang tidak pernah luput dibahas ketika berbicara tentang parenting. Saya sempat bertanya pendapat beberapa orang mengapa menurut mereka bonding itu penting. Jawabannya beragam. Rata-rata menjawab biar bisa jadi teman dan tetap dekat sampai anak dewasa, dan agar anak punya ‘rumah’ yang nyaman. Apakah hanya itu? Tentu tidak. Di bidang psikologi, bonding atau ikatan emosional yang terbentuk antara individu dengan pengasuh utamanya di tahun-tahun awal kehidupannya ini disebut attachment / kelekatan. Biasanya pengasuh utama memang ibu, tetapi bayi bisa kok membangun kelekatan dengan derajat yang berbeda-beda terhadap figur lain seperti ayah, kakek-nenek, saudara, maupun pengasuh. Di artikel ini, kelekatan merujuk pada hubungan antara orang tua dan anak ya J  

 

Teori kelekatan mulai berkembang sekitar 60 tahun lalu, buah pemikiran dan studi dari John Bowlby dan Mary Ainsworth. Sejak itu, begitu banyak penelitian telah dilakukan yang semakin menegaskan bahwa kelekatan memiliki peran yang sangat besar bagi perkembangan anak, dampaknya bukan hanya terbatas pada masa kanak-kanak melainkan terus hingga dewasa. Nah, kelekatan yang perlu menjadi #parentinggoal buat BuBu adalah kelekatan yang aman (secure attachment). Yuk kita bahas lebih lanjut.

 

Rasa Aman

Sejak hari pertama, BuBu tentunya belajar membaca sinyal-sinyal yang diberikan oleh si kecil. Pelan-pelan, BuBU memahami apa kebutuhannya, mengenali cara favoritnya untuk digendong, mainan kesukaan, atau kapan ia lelah dan butuh istirahat. Melalui rutinitas menyusui, makan, mandi, tidur, dan bermain bersama, terbentuklah ikatan emosional antara BuBu dan si kecil. Ketika ia merasa dikenal dan dipahami oleh BuBu, tumbuhlah rasa aman. Ia akan melihat dunia sebagai tempat yang aman, percaya bahwa kebutuhan dirinya akan dipenuhi, dan akan ada orang tuanya yang siap membantu bila ia butuh. Ia percaya pada dasarnya orang itu baik, sehingga tidak sungkan cari bantuan saat menemui kesulitan.

 

Keberanian dan kemandirian

Memasuki masa kanak-kanak dan tahap perkembangan selanjutnya, anak yang telah mengembangkan kelekatan aman dengan orang tua di tahun awal kehidupannya akan tumbuh menjadi anak yang lebih tidak mudah cemas untuk mencoba hal baru. Ia lebih berani dan mandiri melakukan eksplorasi terhadap dunia sekelilingnya, tidak selalu bergantung atau harus didampingi orang tua saat melakukan sesuatu. Melalui eksplorasi lingkungan, anak pun semakin kompeten dan mengembangkan berbagai keterampilan. Anak mungkin saja tetap protes atau merasa kurang nyaman saat harus berpisah sementara dengan Bubu, namun karena ia punya keyakinan bahwa BuBu akan kembali, ia pun mampu mengatasi rasa kecemasan berpisahnya secara lebih cepat. 

 

Pandangan positif tentang diri

Kelekatan yang aman terbangun dari perilaku orang dewasa yang responsif dan menerima diri anak. Pandangan dan perlakuan positif yang orang tua tunjukkan pada anak kemudian akan menjadi cara anak melihat dan memperlakukan dirinya sendiri. Contohnya nih, bila BuBu melihat si kecil sebagai anak yang kompeten, pintar, tangguh, maka ia juga akan membangun konsep diri tersebut dan menilai dirinya secara positif. ”Aku berharga, aku mampu”.    

 

Kemampuan regulasi diri

Anak dengan kelekatan yang aman lebih mampu untuk mengontrol emosi dan perilakunya, sehingga lebih mampu untuk menunggu/ menunda (tidak harus semua keinginannnya dipenuhi saat itu juga) dan lebih jarang memiliki masalah atensi maupun masalah perilaku seperti terlibat dalam perkelahian. Di samping itu, anak dengan kelekatan yang aman juga lebih antusias dan kooperatif saat bermain bersama maupun saat menerima instruksi dari orang tua. Wah, ini pasti harapan setiap BuBu ya, agar anak lebih menurut dan tidak banyak power struggle di rumah tiap kali diminta beres-beres mainan, makan, atau mandi.

 

Relasi positif dengan orang lain

Bila BuBu responsif, studi menunjukkan bahwa anak akan lebih mampu untuk membangun dan mempertahankan hubungan pertemanan, serta lebih empati dan mau membantu orang lain. Sebaliknya, bila kebutuhan emosional si kecil tidak terpenuhi, ke depannya ia bisa menjadi lebih sulit mengembangkan kesadaran emosi dan cenderung menyembunyikan perasaan dirinya. Hal ini bisa menghambat terbentuknya hubungan yang sehat dengan orang lain, termasuk hubungan romantis. Ketakutan akan penolakan atau ditinggal dapat membuat anak menjadi pribadi yang cenderung menghindar untuk terlibat dalam hubungan apapun, atau menjadi mudah cemburu.

 

Keterampilan untuk menyelesaikan masalah dan menghadapi stress

Perpaduan harapan, pandangan positif tentang dunia, self-esteem, dan kemampuan mencari bantuan akan mendukung anak untuk menghadapi masalah dan tantangan dunia secara lebih baik. Anak menjadi lebih resilien, tidak mudah putus asa, dan lebih tidak mudah stress. Anak menunjukkan penyesuaian terhadap kehidupan sekolah yang lebih baik dan lebih mampu menghadapi tekanan teman sebaya. Tentunya BuBu ingin si kecil tumbuh demikian yaa…

 

Wah, begitu besarnya dampak kelekatan yang aman bagi perkembangan anak di masa kini dan masa depan. Semoga BuBu dan si kecil senantiasa memilikinya. Bagaimana caranya? Untuk ide-ide kegiatan yang bisa meningkatkan bonding, bisa baca artikel-artikel lain atau lihat di Instagram Sahabat Ibu Pintar yaa...   

 

By: Orissa Anggita Rinjani

Psikolog Pendidikan dari Rumah Dandelion

                                                                                                                                        

 

Referensi:

Kochanska, G., & Kim, S. 2013. Early attachment organization with both parents and future behavior problems: From infancy to middle childhood. Child Development, 84(1), 283-296. dalam https://www.acpeds.org/the-importance-of-attachment

 

Kochanska G and Murray KT. 2000. Mother-child mutually responsive orientation and conscience development: from toddler to early school age. Child Development, Vol. 71(2): 417-431.

 

Malekpour, M. 2007. Effects of Attachment on Early and Later Development. The British Journal of Developmental Disabilities, Vol. 53, Part 2 No. 105, 81-95

 

https://www.positive-parenting-ally.com/insecure-attachment.html

 

https://www.parentingscience.com/attachment-parenting.html

 

https://www.scholastic.com/teachers/articles/teaching-content/ages-stages-bonding-attachment/