#10YearChallenge: Bagaimana perbedaan saya sekarang dan dulu?

19 Feb 2019

Beberapa pekan yang lalu sedang ramai di media sosial tentang #10YearChallenge, dimana orang mengunggah foto mereka sekarang dengan foto mereka 10 tahun yang lalu. Kemudian bernostalgia tentang dulu gayanya seperti apa vs gaya saat ini, dulu foto dimana dengan siapa, dan lainnya.

 

Namun bila mau coba BuBu gali lebih dalam, apakah perbedaan yang ada hanya di tingkat permukaan terkait penampilan fisik? Mungkin bila coba refleksi lebih lanjut, BuBu menemukan bahwa banyak hal dalam hidup BuBu yang sangat berbeda antara saat ini dan dulu. Lalu memunculkan pernyataan, “10 tahun yang lalu, mana kepikiran, mana nyangka bahwa saya sekarang menjadi seperti ini.”, terutama ketika BuBu membandingkan antara 10 tahun yang lalu masih perempuan single dan sekarang sudah menjadi istri dan ibu.

 

Kalau BuBu coba tanyakan pada diri sendiri, perbedaan apa yang BuBu alami saat ini setelah menjadi seorang ibu? Yang dulu, tidak terpikirkan akan menjadi seperti itu? Saya, yang tidak menyangka bahwa ternyata setelah menjadi ibu dan juga bekerja, melelahkan sekali ya secara fisik dan mental untuk selalu mengurus anak dan rumah dan menyelesaikan pekerjaan. Ga kebayang dulu ibu saya bisa bertahan gimana caranya..

 

Kemarin sempat ngobrol juga dengan beberapa BuBu lain, dan saya mendapat kesimpulan bahwa yang terutama berbeda antara BuBu sekarang dengan 10 tahun yang lalu adalah (1) Prioritas dan (2) Cara menghadapi/melihat situasi atau masalah. Misal, dulu masak bisanya hanya telor ceplok. Sekarang, karena ada anak dan suami, menu masakan lebih kreatif dan bisa masak macam-macam yang sesuai dengan kesukaan anak dan suami. Dulu ketika pergi naik pesawat, kalau dengar ada bayi menangis, mungkin mudah sekali terganggu dan kesal. Sekarang? Mungkin akan lebih empati terhadap BuBu lain tersebut dan memberikan tatapan penyemangatan “Been there done that, sabar ya BuBu”

 

Jadi dari #10yearchallenge, kemudian muncul pertanyaan, “kok bisa ya jadi berubah banget begitu?” Banyak faktor yang terlibat dan penjelasan yang bisa diberikan untuk memahami proses perubahan seseorang. Salah satunya bisa kita lihat dari sudut pandang Social Learning Theory, dari Albert Bandura, yang mengatakan bahwa melalui observasi terhadap kejadian yang ada di lingkungan, kita dapat belajar mengembangkan perilaku atau sikap baru yang membantu kita menghadapi situasi serupa dengan lebih efektif. Misalnya ketika BuBu baru menjadi ibu, dan menghadapi anak yang rewel menangis terus, lalu melihat atau membaca pengalaman orang lain yang menenangkan anaknya dengan cara digendong posisi berdiri sambil dinyanyikan lagu. Apabila anak orang yang BuBu lihat tersebut menjadi tenang, maka besar kemungkinan BuBu pun meniru cara yang sama dalam menenangkan anak BuBu.

 

Jadi apakah semua yang kita lihat kemudian kita tiru? Tidak serta merta manusia akan langsung meniru begitu saja apa yang dilakukan oleh orang lain. Ada 2 hal yang setidaknya perlu ada, (1) Perilaku yang dilakukan orang lain memberikan dampak positif, seperti anak jadi berhenti menangis; dan (2) Orang yang dijadikan model memang ahli di bidangnya atau kredibel untuk memberikan contoh, seperti dokter, bidan, psikolog, orang tua, teman yang sudah mempunyai anak lebih dulu dari kita, dan lainnya.

 

Katanya, tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Namun melalui pengalaman orang lain dan situasi sosial yang ada, kita semua bisa belajar menjadi ibu yang baik untuk anak, dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak kita. Banyak-banyak membaca, banyak-banyak berinteraksi dengan para orang tua lain, lengkapi diri dengan sebanyak-banyaknya informasi agar kita punya banyak amunisi yang bisa dicobakan ketika sedang menghadapi tantangan dalam mengasuh anak. Kira-kira, kalau sekarang BuBu bayangkan, 10 tahun lagi kira-kira BuBu akan berbeda dimana? 😊

 

By: Nadya Pramesrani, M. Psi., Psi.

Psikolog Keluarga dan Pernikahan dari Rumah Dandelion